Sunday, October 12, 2014

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia? (Part II)

Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang.
Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia? (II)Advenso Dollyres Chavit. (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Awal 1960-an Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada masa itu.
Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset. Pelajaran ngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.
Sekitar tahun 1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan "wisma" – istilah lain untuk rumah bordil. Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem. Setiap wisma menampung sekitar 28 pekerja seks komersial (PSK).
Rumah bordil miliknya, menurut Dolly dibangun tanpa bantuan arsitek atau pemborong. Dolly mengaku memandori sendiri. Sebuah kemampuan yang dipelajari dari orangtuanya.
Jadi, mulai alihprofesi, dari seorang pramusyahwat , eh, PSK, menjadi germo? Dolly menyatakan tidak sepenuhnya benar.

Saturday, October 11, 2014

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia? (Part I)

Sesungguhnya protes pertama terhadap Gang Dolly sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".


Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia?
Advenso Dollyres Chavit. (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Gang Dolly, Surabaya, tetap ditutup 19 Juni 2014 lalu. Tetapi, begitulah. Tidak mudah. Penutupan Gang Dolly di kawasan Kampung Kupang menuai kontroversi. Ada pro, ada kontra. Tetapi sesungguhnya protes pertama sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".